Merbabu via Selo

Pada hari Minggu-Senin, 10-11 September 2017 saya mendapat kesempatan untuk mendaki salah satu gunung yang cukup populer di kalangan pendaki Indonesia terutama di Jawa Tengah. Gunung yang saya maksud adalah Merbabu, yang secara administratif berada di wilayah Kabupaten Magelang, Boyolali dan Semarang. Berdasarkan Wikipedia, Gunung Merbabu adalah gunung api yang bertipe Strato yang terletak secara geografis pada 7,5° LS dan 110,4° BT.

Menuju Basecamp

Saya berkelompok bersama 4 orang, yaitu M. Yusuf Fajar, Azhar Mujahid, Adhika Dwi R. dan saya sendiri. Perjalanan kami mulai dari Purbalingga pada hari Sabtu, 9 September 2017 pukul 21.00 dengan menggunakan 2 buah sepeda motor. Cukup nekat berisiko memang, karena perjalanan yang sangat jauh dan ditempuh pada malam hari. Diawal perjalanan kami juga sudah dihadang hujan yang cukup deras beberapa kali yang menyebabkan kami harus lebih was-was dalam berkendara. Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan, kami dipaksa untuk istirahat (karena salah satu rekan kami yang sudah sangat capek) di daerah Kabupaten Temanggung dan kami memilih beristirahat pada salah satu Masjid yang ada disana.

Adzan Subuh berkumandang menandakan kami harus segera bangun dan menunaikan kewajiban kami sebagai umat Islam. Selepas shalat Subuh, kami pun bersiap-siap untuk kembali menempuh perjalanan yang masih cukup jauh (sekitar 2 jam). Sekitar pukul 06.00 kami pun berangkat menuju tujuan yang kami inginkan. Sekitar pukul 07.00, kami sampai di Kabupaten Magelang dan disana kami istirahat kembali sembari mengisi energi dan menanyakan jalan menuju lokasi yang kami inginkan.

Sekitar pukul 09.00 kami hampir sampai di lokasi, namun kami dihentikan oleh warga yang berjaga di jalur Merbabu via Gancik. Kami dipaksa membayar Rp 2.500 per orang apabila kami ingin ke jalur Selo, namun apabila kami memilih jalur Gancik maka kami cukup membayar retribusi sesuai dengan ketentuan (saya lupa pastinya berapa). Akhirnya kami berdiskusi untuk menentukan jalur mana yang akan kami tempuh, dan karena dari awal salah satu rekan kami ingin melalui Selo maka kami memilih membayar Rp 2.500 kepada mereka. Perjalanan berlanjut dan akhirnya kami sampai di lokasi, yaitu Basecamp Merbabu via Selo.

Tindakan yang dilakukan oleh warga dari jalur Gancik bagi saya kurang terpuji. Selain ingin mengambil keuntungan dari jalur lain, secara tidak langsung hal tersebut juga “memaksa” pendaki untuk memilih jalur Gancik dan imbasnya akan mempengaruhi pengunjung jalur Selo.

Dan sebagai catatan, jalur Gancik bukan merupakan jalur resmi dari Balai TNGMb (pada waktu itu).

Mas Adhika berfoto dengan papan Basecamp Pak Parman, Merbabu via Selo (dok. pribadi)

Sesampainya di Basecamp

Pada pendakian Merbabu via Selo, terdapat beberapa basecamp yang dapat dipilih oleh pendaki. Hal ini karena basecamp bukan dikelola Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb), melainkan dikelola oleh warga sendiri, sehingga akhirnya terdapat beberapa basecamp yang dapat dijadikan tempat singgah ataupun menginap oleh pendaki. Pada basecamp hanya dikenakan biaya parkir sebesar Rp 5.000 untuk sepeda motor, sedangkan biaya Simaksi dibayarkan di loket pendaftaran sebesar Rp 13.500 dengan rincian:

  • Rp 1.000 untuk kontribusi asuransi;
  • Rp 5.000 untuk karcis masuk kegiatan tracking, hiking; dan
  • Rp 7.500 untuk karcis masuk pengunjung hari libur (kebetulan saya naik hari Sabtu, jadi termasuk hari libur).

Karcis masuk dan biaya yang harus dibayarkan (dok. pribadi)

Yang membuat saya takjub adalah setelah membayar simaksi, kami diminta untuk berfoto satu per satu dengan menunjukkan kartu tanda pengenal yang kami miliki masing-masing. Hal ini sangat bagus dan baru kali ini saya mendapati seperti ini.

Berfoto bersama di gapura pendakian Merbabu via Selo (dok. pribadi)

Basecamp – Sabana 1

Pendakian kami mulai sekitar pukul 10.00 dan sampai di Pos II sekitar pukul 12.00. Sepanjang perjalanan dari basecamp menuju Pos II masih didominasi hutan yang cukup lebat dan ditambah dengan kondisi jalur yang berpasir dan cuaca yang panas, maka ngebul terus dari awal sampai akhir. Saat ditengah perjalanan, kami juga sempat berjumpa dengan seekor monyet yang cukup besar. Dari pendaki yang lain, kami pun dihimbau untuk berhati-hati dan waspada karena monyet tersebut terkadang suka mengambil barang dari pendaki tanpa izin. Sesampainya kami di Pos II, kami langsung bersiap untuk memasak sebagai makan siang kami.

Areal lokasi Pos II cukup luas, namun banyak lokasi yang tidak rata (dok. pribadi)
Muka lelah dan lapar setelah sampai di Pos II (dok. pribadi)
Mas Yusuf sedang menikmati suasana di Pos II (dok. pribadi)

Setelah selesai makan dan beribadah, kami langsung melanjutkan kembali perjalanan kami menuju ke Pos III. Kami sampai sekitar pukul 14.00 waktu setempat. Lokasi Pos III sangat luas dan cukup datar, lokasi yang cukup nyaman apabila ingin ngecamp disini. Dari Pos III kita juga dapat melihat jalur yang akan kita lalui menuju Sabana 1 yang cukup membuat kita kaget dan terperanjat.

Apabila ingin camp di Pos III, perhatikan lokasi dan arah angin baik-baik. Cari lokasi yang terhalang angin agar kalian dapat beristirahat dengan nyaman.

Areal lokasi Pos III dan jalur menuju Sabana 1 (sumber: Blognya Fauzan)

Saya rasa baru memulai perjalanan dari Pos III ini, karena melihat jalur yang cukup menyiksa batin dan raga.

Perjalanan kami lanjutkan, dan sekitar pukul 15.00 kami pun sampai di Sabana 1. Lokasi Sabana 1 ini sangat luas dan banyak spot untuk ngecamp yang cukup nyaman. Selain itu, di Sabana 1 kita dapat melihat dan menikmati tumbuhan edelweis dengan bunganya yang indah dan juga dapat  sunset secara langsung. Karena waktu sudah menjelang sore dan melihat juga jalur menuju Sabana 2 yang cukup menyiksa menanjak, maka kami putuskan untuk camp di Sabana 1 ini.

Merapi dilihat dari Sabana 1 (dok. pribadi)
Menikmati secangkir kopi sembari menunggu matahari tenggelam (dok. pribadi)
Mas Azhar berfoto dengan bunga edelweis saat sunset (dok. pribadi)
Jalur menanjak menuju puncak (kiri) dan menuju Sabana 2 (tengah) (sumber: InfoPendaki)
Sabana 1 dan Merapi dilihat dari jalur menanjak sebelum Sabana 2 (dok. pribadi)

Sabana 1 – Puncak

Sekitar pukul 03.00 dini hari kami melanjutkan perjalanan untuk summit ke puncak. Perjalanan awal kami harus menuju ke Sabana 2 dengan jalur yang menanjak tadi. Lokasi Sabana 2 sangat luas dan nyaman untuk tempat ngecamp, ditambah lagi dengan waktu tempuh ke puncak yang hanya tinggal 1 jam. Namun view dari Sabana 2 tidak se-wah Sabana 1, karena lokasi Sabana 2 dikelilingi oleh bukit-bukit.

Lokasi camp Sabana 2 (dok. pribadi)
Jalur menuju puncak dilihat dari Sabana 2 (dok.pribadi)

Setelah melewati Sabana 2, kami melanjutkan perjalanan menuju Watu Lumpang. Di Pos Watu Lumpang ini terdapat sebuah batu yang berbentuk lumpang sesuai dengan namanya. Kami sampai di Pos Watu Lumpang ini bersamaan dengan waktu Shubuh, sehingga selain beristirahat kami juga shalat Subuh disini.

Pos Watu Lumpang (sumber: Takjub Indonesia)
Jalur menuju puncak dari Watu Lumpang (sumber: Musafir Kehidupan)

Kemudian kami melanjutkan perjalanan untuk summit ke puncak. Namun ditengah perjalanan, Matahari telah menampakkan wujudnya sebelum kami mencapai puncak, sehingga dengan terpaksa kami harus berhenti di tengah perjalanan untuk menikmati pemandangan yang luar biasa indah ini.

Matahari terbit ditengah perjalanan menuju puncak (dok. pribadi)

Setelah puas menikmati indahnya Matahari terbit, kami melanjutkan perjalanan menuju Puncak Trianggulasi. Sekitar pukul 06.00 kami sampai di Puncak Trianggulasi, yang merupakan salah satu puncak tertinggi di Merbabu ini.

Kondisi Puncak Trianggulasi (dok. pribadi)
Merapi dilihat dari Puncak Trianggulasi, Merbabu (dok. pribadi)

Puas berfoto di Puncak Trianggulasi, kami pun berlanjut menuju ke Puncak Kenteng Songo yang berjarak sangat dekat dengan Puncak Trianggulasi. Disini kami menyempatkan untuk foto bersama sebagai kenang-kenangan.

Berfoto bersama di Puncak Kenteng Songo (dok. pribadi)

Sebagai informasi, Merbabu mempunyai 3 (tiga) puncak yang utama, yaitu:

  1. Puncak Kenteng Songo (3142 mdpl);
  2. Puncak Trianggulasi (3142 mdpl); dan
  3. Puncak Syarif (3119 mdpl).

Selain 3 puncak utama tadi, Merbabu masih memiliki 4 puncak yang lainnya yaitu Puncak Geger Sapi, Puncak Watu Gubug, Puncak Watu Tulis dan Puncak Ondorante.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *